Minggu, 18 Maret 2018

Meniti Jalan yang Lurus

Hasil gambar untuk petunjuk jalan yang lurusوَعَلَى اللهِ قَصْدُ السَّبِيلِ وَمِنْهَا جَائِرٌ وَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ
“Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semuanya (kepada jalan yang benar).” (An-Nahl: 9)

Penjelasan Mufradat Ayat
قَصْدُ السَّبِيلِ
“Jalan yang lurus.”
Qashd dalam ayat ini bermakna isim fa’il (qashid/ قَاصِدٌ), yang berarti lurus. Sedangkan sabil berarti jalan. Maka qashdus sabil bermakna lurusnya sebuah jalan atau jalan yang lurus.
Asy-Syinqithi rahimahullahu menerangkan dalam kitabnya Adhwa’ Al-Bayan: “Ketahuilah bahwa yang dimaksud qashdus sabil adalah jalan lurus yang tidak mengandung kebengkokan. Makna ini adalah hal yang telah diketahui dalam lingkup bahasa Arab.”
Syaikhul Islam rahimahullahu mengatakan: “Al-Qashd adalah keadilan, sebagaimana ia juga bermakna lurus dan kebenaran, yaitu yang sesuai dan sepadan, yang tidak bertambah dan tidak berkurang.” (Majmu’ Fatawa, 17/230)
Ungkapan para ahli tafsir dalam menjelaskan maknanya memang beragam, namun pada hakikatnya kembali kepada inti makna, yaitu jalan yang lurus, tidak menyimpang, yang senantiasa berada di atas bimbingan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: “Merupakan hak bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan petunjuk dan kesesatan.”
Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Syariat dan perkara-perkara yang wajib.”
Mujahid rahimahullahu berkata: “Jalan kebenaran menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Qatadah rahimahullahu berkata: “Merupakan hak bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan halal, haram, ketaatan, dan kemaksiatan.”
As-Suddi rahimahullahu berkata: “(Menerangkan) Islam.”
Abdullah bin Mubarak rahimahullahu berkata: “(Menerangkan) As-Sunnah.”
Syaikhul Islam mengatakan: “Hidayah, qashdus sabil, dan jalan yang lurus, semuanya menunjukkan ibadah dan taat kepada-Nya, tidak menunjukkan kemaksiatan dan taat kepada setan.” (Majmu’ Fatawa, 15/214)
وَمِنْهَا جَائِرٌ
“Dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok.”
Dhamir ha kembali kepada lafadz sabil, disebutkan dalam bentuk mu’annats karena lafadz tersebut bisa dijadikan mudzakkar dan mu’annats. Sebagian menyebutkan bahwa lafadz sabil dalam ayat ini bermakna jamak meskipun bentuknya mufrad.
At-Thabari rahimahullahu meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu membacanya وَمِنْكُمْ جَائِرٌ. Maknanya adalah bahwa di antara jalan-jalan tersebut terdapat jalan-jalan yang menyimpang.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Jalan-jalan yang terpecah-pecah.” Dalam riwayat lain beliau mengatakan: “Berbagai macam hawa nafsu.” Yang semakna dengannya disebutkan pula oleh Ubaid bin Sulaiman, Ibnu Juraij, dan yang lainnya.
Sebagian mengatakan: “Qashdus sabil adalah agama Islam, sedangkan ja’ir adalah agama kekufuran dengan berbagai macamnya.”
Abdullah bin Mubarak rahimahullahu berkata: “Mereka adalah pengekor bid’ah dan hawa nafsu.”

Penjelasan Makna Ayat
Ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mulia ini menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memiliki hak yang mutlak dalam membimbing siapa saja yang dikehendaki-Nya, sebagai karunia dan keutamaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada hamba tersebut. Bimbingan itulah yang menyebabkan seorang hamba senantiasa istiqamah di atas Islam, di atas As-Sunnah, yang merupakan satu-satunya jalan kebenaran. Selain jalan ini, merupakan jalan-jalan yang menyimpang dari al-haq. Ada kalanya menuju kekufuran serta kesyirikan, dan ada kalanya menuju kepada bid’ah serta hawa nafsu. Seorang hamba yang dibimbing menuju jalan yang lurus adalah semata-mata karena rahmat dan karunia-Nya k. Sedangkan seseorang yang tersesat dan menyimpang, itu merupakan bentuk keadilan dan hikmah yang dikehendaki-Nya.
Syaikhul Islam berkata tatkala menjelaskan ayat ini: “Ini juga termasuk nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling agung, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjamin untuk menjelaskan dan merinci jalan petunjuk, yaitu dengan cara menegakkan dalil-dalil serta mengutus para rasul. Ini yang disebutkan oleh para ahli tafsir. Ada pula kemungkinan maknanya bahwa siapa yang menempuh jalan yang lurus maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membimbing jalannya dan akan sampai kepada-Nya. Sebagaimana halnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قَالَ هَذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ
“Allah berfirman: ‘Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya)’.” (Al-Hijr: 41) [Majmu’ Fatawa: 15/207]
Sebab jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki, bukanlah hal yang sulit bagi-Nya untuk menjadikan semua orang dalam keadaan mukmin dan taat kepada-Nya. Namun sudah menjadi ketetapan dan hikmah-Nya, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan sebagian manusia ada yang kafir dan menyimpang dari jalan-Nya, karena hikmah dan kemaslahatan yang lebih besar yang telah menjadi ketetapan dan kehendak-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
وَلَوْ شِئْنَا لَآتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi) nya, akan tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) daripadaku; ‘Sesungguhnya akan aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama’.” (As-Sajdah: 13)
Juga firman-Nya:
وَلَوْ شَاءَ اللهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ وَمِنْهُمْ مَنْ كَفَرَ وَلَوْ شَاءَ اللهُ مَا اقْتَتَلُوا وَلَكِنَّ اللهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ
“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Baqarah: 253)
Firman-Nya pula:
وَلَوْ شَاءَ اللهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
“Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (Al-Ma’idah: 48)
Dan firman-Nya:
وَلَوْ شَاءَ اللهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى الْهُدَى فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْجَاهِلِينَ
“Kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil.” (Al-An’am: 35)
Dan masih banyak lagi ayat yang menjelaskan hal ini.
Ibnu Katsir rahimahullahu menerangkan: “Seseorang tidak akan sampai kepada-Nya kecuali dengan menempuh jalan lurus yang disyariatkan oleh-Nya, diridhai-Nya. Adapun selain itu, maka itu adalah jalan yang tertutup serta amalan-amalan yang tertolak.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Al-Qurthubi rahimahullahu mengatakan: “(Ayat ini) menjelaskan bahwa kehendak takdir adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, dan ini membenarkan penafsiran yang disebutkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Juga membantah kelompok Al-Qadariyyah (pengingkar takdir) dan yang sependapat dengan mereka.” (Tafsir Al-Qurthubi)
Syaikhul Islam rahimahullahu mengatakan: “Takdir merupakan hal yang benar, namun memahami Al-Qur’an dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, serta menjelaskan hikmah dan keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama dengan keimanan kepada takdir, merupakan metode para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.” (Majmu’ Fatawa, 15/211)

Memahami Perbedaan Ungkapan Ahli Tafsir
Jika kita perhatikan pendapat para ulama dalam menafsirkan kata qashdus sabil dan waminha ja’ir, nampak terjadi perselisihan di antara mereka. Namun pada hakikatnya, ikhtilaf tersebut tidak bertentangan satu sama lain. Sebab apa yang mereka perselisihkan tersebut termasuk di antara jenis ikhtilaf tanawwu’, yaitu perselisihan yang tidak saling kontradiksi, namun saling mendukung antara satu dengan yang lainnya. Hal ini dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu dalam risalahnya Muqaddamah fi Ushul At-Tafsir, di mana beliau menjelaskan bahwa perselisihan di kalangan ahli tafsir yang termasuk dalam jenis ikhtilaf tanawwu’ ada dua macam:
1. Setiap mereka memberi ungkapan tertentu yang berbeda dengan ungkapan ahli tafsir yang lain, yang semua ungkapan itu menunjukkan makna tersendiri yang terdapat pada sesuatu yang ditafsirkan tersebut. Seperti halnya nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, nama Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan yang lainnya. Seperti halnya nama Allah Al-Aziz yang memiliki makna dan sifat kemuliaan, berbeda dengan nama Ar-Rahman, yang mengandung sifat kasih sayang-Nya. Masing-masing dari nama Al-Aziz dan Ar-Rahman kembali kepada Dzat yang sama, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Demikian pula nama Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antara nama beliau adalah Al-Mahi, yang artinya penghapus kekufuran. Di antara nama beliau adalah Al-’Aqib, yang artinya tidak ada nabi setelah beliau. Juga di antara nama beliau adalah Ahmad, artinya orang yang terpuji. Namun setiap dari nama tersebut walaupun memiliki makna yang berbeda, namun pada hakikatnya kembali kepada satu diri, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Demikian pula penafsiran para ulama dalam menjelaskan makna ash-shiratul mustaqim, sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Islam. Sebagian berkata maksudnya mengikuti Al-Qur’an. Sebagian lagi mengatakan, maksudnya As-Sunnah dan Al-Jama’ah, sebagian lagi mengatakan maksudnya taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta yang lainnya. Seluruhnya mengisyaratkan kepada inti yang sama, dengan pengungkapan sifat yang berbeda.
2. Masing-masing menafsirkan sebuah nama yang umum dengan sebagian yang bersifat khusus untuk dijadikan sebagai contoh, bukan bermaksud untuk membatasi penafsiran hanya dalam sesuatu yang disebutkan tersebut. Seperti contoh, ketika ada seseorang yang bukan Arab bertanya tentang apa yang dimaksud dengan lafadz khubuz (roti), lalu dijawab dengan memperlihatkan salah satu jenis roti. Itu bukan berarti bahwa khubuz memiliki makna terbatas yang dicontohkan itu saja, namun khubuz meliputi jenis yang lain pula, yang merupakan jenis makanan yang terbuat dari gandum dengan berbagai bentuknya.
Seperti halnya dalam menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Fathir: 32)
Telah dimaklumi bahwa makna az-zalim linafsihi (yang menganiaya diri sendiri) mencakup setiap orang yang melalaikan hal-hal yang wajib, yang melakukan perbuatan yang diharamkan. Sedangkan al-muqtashid (yang pertengahan) meliputi setiap orang yang melakukan hal-hal yang wajib dan meninggalkan perkara haram. Adapun as-sabiq (yang lebih dahulu berbuat kebaikan) mencakup setiap orang yang mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan amalan-amalan kebaikan disamping hal-hal yang wajib tersebut.
Namun bila kita melihat pendapat ahli tafsir, kita mendapati bahwa di antara mereka ada yang menafsirkan dengan menyebutkan salah satu dari amalan shalih yang dilakukan seorang hamba. Seperti ada yang menyebutkan bahwa as-sabiq adalah orang yang shalat pada awal waktu, al-muqtashid adalah orang yang shalat pada pertengahan waktu, sedangkan azh-zhalim linafsihi adalah orang yang melambatkan waktu shalat ashar hingga matahari menguning.
Sebagian ahli tafsir ada pula yang mengatakan bahwa as-sabiq adalah orang yang bersedekah, azh-zhalim linafsihi adalah orang yang bermu’amalah dengan cara riba, sedangkan al-muqtashid adalah orang yang berjual beli dengan cara yang adil.
Sebagian lagi menyebutkan penafsiran yang berbeda, yang jika kita perhatikan, sesungguhnya tidak ada perselisihan yang saling bertentangan dari berbagai penafsiran tersebut. Hanya saja masing-masing dari mereka menyebutkan salah satu jenis amalan tertentu, yang dijadikan sebagai contoh untuk memudahkan dalam memahami ayat tersebut, bukan sebagai pembatas makna ayat. (Lihat pembahasan rinci Syaikhul Islam rahimahullahu dalam Majmu’ Fatawa, 13/333-338)
Bila kita memahami hal ini maka kita akan mengetahui bahwa sesungguhnya kebanyakan perselisihan di kalangan ahli tafsir dalam menafsirkan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala, kembalinya kepada dua macam penafsiran yang telah kita sebutkan. Bukan merupakan perselisihan yang saling bertentangan antara satu dengan yang lain.
Wallahu a’lam.
http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=785

Meniti Ilmu di Atas Manhaj Salaf

Hasil gambar untuk petunjuk jalan yang lurus
Manhaj salaf (metode beragama yang telah ditempuh oleh para sahabat Rasulullah dan para ulama Ahlus Sunnah yang mengukuti petunjuk mereka) adalah satu-satunya metode pemahaman dan pengamalan agama islam yang dijamin kebenarannya oleh Allah dan Rasul-Nya . Oleh karena itu, jaminan mendapatkan keridhaan Allah hanya Allah berikan kepada para sahabat Rasulullah dan orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka dengan ihsan (kebaikan), sebagaimana yang Alah nyatakan dalam firman-Nya:
{والسابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان رضي الله عنهم ورضوا عنه، وأعدّ لهم جنات تجري تحتَها الأنهار خالدين فيها أبداً، ذلك الفوز العظيم}
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar (para sahabat ) dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” (QS At Taubah:100).
Dalam ayat ini Allah menyebutkan jaminan mendapatkan keridhaan-Nya bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk para sahabat , dengan syarat mereka mengikutinya dengan ihsan (kebaikan), yang artinya adalah mengikuti petunjuk mereka secara keseluruhan dalam memahami dan mengamalkan agama ini, baik dalam aqidah (keyakinan), ibadah, tingkah laku, bergaul, bersikap, berdakwah, dan semua sisi agama lainnya, atau ringkasnya: mengikuti petunjuk mereka dalam mengilmui (memahami) dan mengamalkan agama ini secara keseluruhan.
Dalam menafsirkan ayat di atas Imam Ibnu Katsir berkata: “Orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan adalah orang-orang yang mengikuti jejak (petunjuk) mereka yang baik, dan sifat-sifat mereka yang terpuji, serta selalu mendoakan kebaikan bagi mereka secara diam-diam maupun terang-terangan”([1]).

Manhaj Salaf: Manhaj Ilmu dan Amal
Inilah salah satu keistimewaan terbesar yang ada pada manhaj salaf , karena manhaj ini dibangun di atas ilmu (pemahaman) agama yang benar, dan pengamalan yang baik, sehingga orang yang benar-benar mengikuti manhaj ini akan terbimbing dalam pemahaman agamanya sehingga terhindar dari segala macam bentuk syubhat([2]), sekaligus terbimbing dalam pengamalan dari ilmu tersebut sehingga terhindar dari segala macam bentuk syahwat([3]).
Dengan keistimewaan ini pulalah Allah menyifati petunjuk yang dibawa oleh Rasulullah dalam firman-Nya:
{ما ضل صاحبكم وما غوى}
“Kawanmu (Nabi Muhammad ) tidak sesat (dalam ilmu) dan tidak pula menyimpang (dalam amal)” (QS An Najm:2).
Dalam ayat ini Allah menyucikan petunjuk yang dibawa oleh Rasulullah dari dua macam kerusakan yaitu: adh dhalaal (kesesatan/kerusakan dalam ilmu dan pemahaman), dan al ghawaayah/al ghayy (penyimpangan/kerusakan dalam amal). Ini berarti dalam petunjuk Rasulullah tedapat dua bimbingan sekaligus: al huda (bimbingan dalam ilmu dan pemahaman) dan al rusyd (bimbingan dalam amal), dan Rasulullah adalah orang yang paling sempurna dalam memahami dan mengamalkan agama ini([4]).
Demikian pula dua bimbingan ini ada pada petunjuk yang dibawa oleh Al khulafa’ ar raasyidiin (para sahabat utama yang menggantikan kepemimpinan Rasulullah setelah beliau wafat), sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah dalam sabda beliau: “Hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnah (petunjuk)ku dan petunjuk Al khulafa’ ar raasyidiin al mahdiyyin …([5])”.
Dalam hadits ini Rasulullah menyifati para sahabat utama yang menggantikan kepemimpinan beliau setelah beliau wafat sebagai Al khulafa’ ar raasyidiin al mahdiyyin, artinya para khalifah yang memiliki al rusyd yaitu bimbingan dalam amal (lawan dari al ghawaayah), dan memiliki al huda yaitu bimbingan dalam ilmu dan pemahaman (lawan dari adh dhalaal). Maka ini menunjukkan bahwa orang yang benar-benar mengikuti petunjuk Al khulafa’ ar raasyidiin dan termasuk para sahabat Nabi secara keseluruhan akan terbimbing dengan baik dalam memahami dan mengamalkan agama islam ini.
Oleh karena itulah, kita dapati para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah dari kalangan At Tabi’in yang langsung menimba ilmu dari para sahabat Rasulullah , mereka tidak hanya mempelajari dari para sahabat ilmu secara teori, akan tetapi mereka juga mempelajari bagaimana mengamalkan dan mempraktekkan ilmu tersebut.
Imam Abu Abdirrahman Abdullah bin Habib bin Rubayyi’ah As Sulami Al Kuufi([6]) berkata: “Kami mempelajari Al Qur-an dari suatu kaum (para Sahabat ) yang menyampaikan kepada kami bahwa dulunya mereka ketika mempelajari sepuluh ayat (Al Qur-an dari Rasulullah ) mereka tidak akan berpindah ke sepuluh ayat berikutnya sampai mereka (benar-benar) memahami kandungan ayat-ayat tersebut, maka kamipun mempelajari Al Qur-an sekaligus (bagaimana) mengamalkannya, dan setelah kami nanti akan datang suatu kaum yang mereka mempelajari Al Qur-an seperti meminum air, Al Qur-an tersebut tidak melampui tenggorokan mereka (tidak masuk ke dalam hati mereka)”([7]).

Ulama Salaf Imam dalam Ilmu dan Amal
Keterangan dan nukilan yang kami sampaikan di atas akan semakin terbukti kalau kita mencermati dengan sekasama biografi para Imam besar Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang mana kita akan dapati bahwa mereka tidak hanya disifati sebagai orang-orang yang memiliki ilmu agama yang dalam, akan tetapi mereka juga adalah orang-orang yang merupakan teladan dalam ibadah dan amal shaleh.
Sebut saja misalnya Rabii’ bin Khutsaim Al kuufi (wafat tahun 65 H)([8]), salah seorang Imam besar dari kalangan Tabi’in ‘senior’ yang terpercaya dalam meriwayatkan hadits dan termasuk murid Sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud , yang karena ketekunan ibadah dan ketakwaan beliau sampai-sampai guru beliau sendiri, Abdullah bin Mas’ud memuji beliau dengan mengatakan: “Seandainya Rasulullah melihatmu maka sungguh beliau akan mencintaimu, setiap kali aku melihatmu aku mengingat orang-orang yang selalu menundukkan diri (kepada Allah )”([9]).
Muhammad bin Sirin Al Bashri (wafat tahun 110 H)([10]), seorang Imam besar Tabi’in yang sangat terpercaya dan teliti dalam meriwayatkan hadits, dalam biografi beliau diterangkan bahwa beliau adalah orang yang sangat wara’ (hati-hati dalam masalah halal dan haram) dan tekun beribadah, sehingga Abu ‘Awaanah Al Yasykuri berkata: “Aku melihat Muhammad bin sirin di pasar, tidaklah seorangpun melihat dia kecuali orang itu akan mengingat Allah”([11]).
Tsabit bin Aslam Al Bunaani Al Bashri (wafat tahun 123 H atau 127 H)([12]), juga seorang imam besar dari kalangan Tabi’in yang terpercaya dalam meriwayatkan hadits dan termasuk murid ‘senior’ Sahabat yang mulia Anas bin Malik , beliau sangat tekun dalam beribadah bahkan disifati sebagai orang yang paling tekun beribadah di jamannya, sehingga guru beliau sendiri, Anas bin Malik memuji beliau dengan mengatakan: “Sesungguhnya Tsabit termasuk pembuka pintu-pintu kebaikan”([13]). Anas bin Malik dalam pujian ini mengisyaratkan kepada hadits yang diriwayatkannya dari Rasulullah bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya di antara manusia ada pembuka pintu-pintu kebaikan dan penutup pintu-pintu keburukan”([14]).
Abdullah bin Al Mubarak Al Marwazi (wafat tahun 181 H)([15]), Imam besar yang ternama dari kalangan Atba’ut Tabi’in (murid para Tabi’in) yang sangat terpercaya dan teliti dalam meriwayatkan hadits, beliau disifati sebagai orang yang terkumpul padanya semua sifat-sifat baik, sampai-sampai Imam Sufyan bin ‘Uyainah memuji beliau dengan mengatakan: “Aku memperhatikan (membandingkan) sifat-sifat para Sahabat dan sifat-sifat Abdullah bin Al Mubarak, maka aku tidak melihat para Sahabat melebihi keutamaan beliau kecuali karena mereka menyertai Rasulullah dan berjihad bersama beliau([16]). Ibnu Hajar dalam “Taqriibut tahdziib” (hal. 271) berkata: “Beliau adalah seorang yang terpercaya lagi sangat teliti (dalam meriwayatkan hadits), orang yang memiliki ilmu dan pemahaman (yang dalam), dermawan lagi (sering) berjihad (di jalan Allah ), terkumpul padanya (semua) sifat-sifat baik”.
Kemudian sehubungan dengan pembahasan di atas, ada satu nukilan menarik yang disebutkan oleh Al Khathib Al Baghdaadi dalam kitab beliau “Tarikh Baghdad” (9/58) dan Adz Dzahabi dalam “Siyaru a’laamin nubala’” (13/203) dalam biografi Imam besar penghafal hadits yang ternama, Abu Dawud Sulaiman bin Al Asy’ats As Sijistani (wafat tahun 275 H), pemilik kitab “Sunan Abi Dawud”. Dalam nukilan itu disebutkan mata rantai guru-guru beliau dalam mempelajari ilmu hadits sampai kepada Rasulullah . Mereka adalah Imam Ahmad bin Hambal: guru utama Imam Abu Dawud, kemudian Waqi’ bin Al Jarrah Ar Ruaasi: termasuk guru utama Imam Ahmad, lalu Sufyan bin Sa’id Ats Tsauri: guru utama Imam Waqi’ bin Al Jarrah, selanjutnya Manshur bin Al Mu’tamir: termasuk guru utama Sufyan Ats Tsauri, seterusnya Ibrahim bin Yazid An Nakha-i: termasuk guru utama Manshur bin Al Mu’tamir, kemudian ‘Alqamah bin Qais An Nakha-i: guru utama Ibrahim An Nakha-i dan termasuk murid ‘senior’ Sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud , selanjutnya Abdullah bin Mas’ud yang langsung menimba ilmu dari Rasulullah . Mereka ini semua adalah Imam-imam besar Ahlul Hadits yang sangat terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah , sehingga hadits-hadits mereka dicantumkan dalam kitab-kitab hadits yang ternama, seperti “Shahih Al Bukhari”, “Shahih Muslim” dan lain-lain.
Yang menarik dari nukilan tersebut adalah semua Imam-imam besar tersebut disifati sebagai “orang yang diserupakan dengan gurunya dalam petunjuk dan tingkah lakunya”, mulai dari sahabat Abdullah bin Mas’ud , beliau diserupakan dengan Nabi Muhammad dalam petunjuk dan tingkah laku beliau, kemudian ‘Alqamah diserupakan dengan Abdullah bin Mas’ud dalam petunjuk dan tingkah laku beliau, seterusnya sampai kepada Imam Abu Dawud, beliau diserupakan dengan Imam Ahmad bin Hambal dalam petunjuk dan tingkah laku beliau.
Dalam nukilan tersebut kita dapati bahwa para ulama Ahlus Sunnah dalam menimba ilmu agama tidak hanya mengutamakan pengambilan ilmu secara teori belaka, akan tetapi mereka juga mengambil dan meneladani petunjuk dan tingkah laku guru-guru mereka secara maksimal, sehingga Imam Abu Dawud dapat mengambil dan meneladani petunjuk dan tingkah laku Rasulullah melalui teladan yang beliau ambil dari guru-guru beliau padahal rentang masa antara beliau dengan Rasulullah sangat jauh sekali.

Nasehat untuk para pengikut manhaj Salaf
Dari keterangan di atas, jelaslah bagi kita bahwa diantara keistimewaan terbesar yang ada pada manhaj salaf adalah perhatian dan semangat besar mereka dalam mempelajari dan mengamalkan petunjuk Al Qur-an dan Sunnah Rasulullah , maka seharusnya kita yang menisbatkan diri kepada manhaj ini berusaha untuk mengikuti petunjuk mereka ini, agar kita termasuk ke dalam golongan “orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka dengan kebaikan” dan mendapatkan ridha Allah . Karena kalau bukan kita – terlebih lagi para penuntut ilmu di antara kita – yang semangat mempelajari dan mengamalkan petunjuk Al Qur-an dan Sunnah Rasulullah , maka siapa lagi?
Marilah kita camkan bersama nasehat Imam Al Khatiib Al Baghdadi([17]) tentang adab-adab utama yang seharusnya dimiliki oleh para penuntut ilmu, beliau berkata: “seyogyanya para penuntut ilmu hadits (berusaha) membedakan dirinya dari kebiasaan orang-orang awam dalam semua urusan (tingkah laku dan sikap)nya, dengan (berusaha) mengamalkan petunjuk Rasulullah semaksimal mungkin, dan membiasakan dirinya mengamalkan sunnah-sunnahnya, karena sesungguhnya Allah berfirman :
{لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة}
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu” (QS Al Ahzaab: 21)”.
Kemudian Al Khatiib Al Baghdadi membawakan beberapa atsar (riwayat) dari ulama Salaf, diantaranya ucapan Imam Al Hasan Al Bashri: “Dulu jika seseorang menuntut ilmu agama, maka tidak lama kemudian terlihat (pengaruh ilmu tersebut) pada sifat khusyu’ (tunduk)nya (kepada Allah), tingkah lakunya, ucapannya, pandangannya dan (perbuatan) tangannya”.
Juga Atsar dari Imam Ahmad bin Hambal, ketika ada seorang penuntut ilmu yang bermalam di rumah beliau, maka Imam Ahmad menyiapkan air (untuk berwudhu), kemudian paginya Imam Ahmad datang kepada tamunya tersebut dan mendapati air yang beliau siapkan tidak berkurang sama sekali, maka beliau berkata: “Subhanallah (maha suci allah)! Seorang penuntut ilmu tidak melakukan wirid (zikir dan shalat) di malam hari?!!”
Inilah petunjuk para ulama Salaf dalam menjalankan agama ini, yang kita mengaku menisbatkan diri kepada manhaj mereka, akan tetapi sudahkah kita menerapkan petunjuk mereka ini dalam diri kita?
Maka semoga tulisan ini menjadi koreksi dan penambah motivasi bagi kita untuk lebih semangat mencari ilmu yang bermanfaat([18]) dan berusaha melatih diri mengamalkan ilmu tersebut, serta tidak lupa banyak berdo’a kepada Allah agar kita dimudahkan menempuh manhaj yang lurus ini.
Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan berdo’a kepada Allah semoga Dia senantiasa melimpahkan taufik dan petunjuk-Nya kepada kita semua agar kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mengikuti petunjuk para ulama Salaf dengan kebaikan, serta menjadikan kita tetap istiqamah di atas manhaj tersebut sampai akhir hayat kita nantinya, aamin.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Nabi , 16 Rabi’ul awwal 1429 H
Abdullah bin Taslim Al Buthoni

([1]) Tafsir Ibnu Katsir 4/432).
([2]) Artinya kerancuan dan kesalahpahaman dalam memahami agama islam, yang disebabkan ketidakmampuan membedakan antara yang benar dan yang batil (salah), lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam kitab beliau “Igaatsatul lahafaan” (hal. 40- mawaaridul amaan).
([3]) Artinya memperturutkan keinginan nafsu yang buruk dan mendahulukannya di atas petunjuk Allah I dan Rasul-Nya , ibid.
([4]) Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam kitab beliau “Miftahu daaris sa’aadah” (1/40).
([5]) HR Abu Dawud (no. 4607), At Tirmidzi (no. 2676), Ibnu Majah (no. 42 dan 43) dan Al Hakim (no. 329) dan lain-lain, dari sahabat yang mulia Al ‘Irbaadh bin Saariyah t, dinyatakan shahih oleh At Tirmidzi, Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi dan Syakh Al Albani dalam “Ash Shahihah” (no. 937).
([6]) Beliau adalah seorang Tabi’in ‘senior’ yang sangat terpercaya dan teliti dalam meriwayatkan hadits Rasulullah , sehingga riwayat hadits beliau dicantumkan oleh para Imam ahli hadits dalam kitab-kitab hadits mereka, seperti Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An Nasa’i dan lain-lain, beliau wafat pada sekitar tahun 73 atau 74 H, biogarafi beliau dalam kitab “Tahdziibul kamala” (14/408), “Siyaru a’laamin nubalaa’” (4/267) dan “Taqriibut tahdziib” (hal. 250).
([7]) Atsar ini dinukil oleh Imam Adz Dzahabi dalam “Siyaru a’laamin nubalaa’” (4/269), dalam sanadnya ada seorang perawi yang bernama ‘Atha’ bin As Saaib Al Kuufi, berkata Ibnu Hajar dalam kitab “Taqriibut tahdziib” (hal. 250): “Dia adalah seorang yang sangat jujur akan tetapi (hafalannya) tercampur”. Meskipun demikian perawi yang meriwayatkan darinya dalam atsar ini adalah Hammaad bin Zaid Al Bashri yang meriwayatkan darinya sebelum hafalannya tercampur, sebagaimana ucapan Imam Ali bin Al Madiini dan Al ‘Uqaili (lihat kitab “Tahdziibul Kamaal” 7/185). Riwayat ini juga dikuatkan dengan riwayat lain dari ucapan sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud t, yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam “Tafsir” beliau (1/60) dengan sanad yang semua perawinya terpercaya, akan tetapi Sulaiman bin Mihraan Al A’masy meriwayatkannya dengan ‘an’anah sedangkan dia adalah mudallis.
([8]) Biografi beliau dalam “Tahdzibul kamal” (9/70) dan “Siyaru a’laamin nubala’” (4/258).
([9]) Siyaru a’laamin nubalaa’ (4/258), juga dinukil oleh Al Miizi dalam “Tahdziibul kamaal” (9/72) dan Ibnu Hajar dalam kitab “Taqriibut tahdziib” (hal. 157).
([10]) Biografi beliau dalam “Tahdzibul kamal” (25/344) dan “Siyaru a’laamin nubala’” (4/606).
([11]) Siyaru a’laamin nubalaa’ (4/610), sifat beliau ini menunjukkan bahwa beliau adalah wali (kekasih) Allah I, karena Rasululah bersabda: “Wali (kekasih) Allah adalah orang yang jika (manusia) memandangnya maka mereka akan ingat kepada Allah”, HR Ath Thabrani dalam “Al mu’jamul kabiir” (no. 12325), Dhiya’uddin Al Maqdisi dalam “Al Ahaaditsul mukhtaarah” (2/212) dan lain-lain, hadits ini dinyatakan kuat oleh Syaikh Al Albani dalam “Ash Shahihah” (no. 1733) karena diriwayatkan dari jalur lain yang saling menguatkan.
([12]) Biografi beliau dalam “Tahdzibul kamal” (4/342) dan “Siyaru a’laamin nubala’” (5/220).
([13]) Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam “Al Mushannaf” (no 35679), perawinya semua terpercaya kecuali Zaid bin Dirham Al Bashri tidak ada seorang imampun yang menyatakannya sebagai orang yang terpercaya kecuali ibnu Hibban yang menyebutkannya dalam kitab “Ats Tsiqaat” (4/247).
([14]) HR Ibnu Majah (no. 237) dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab “As Sunnah” (no. 251), dinyatakan hasan (baik) oleh syaikh Al Albani dalam “Ash Shahihah” (no. 1332) karena diriwayatkan dari berbagai jalur lain yang saling menguatkan.
([15]) Biografi beliau dalam “Tahdzibul kamal” (16/5) dan “Siyaru a’laamin nubala’” (8/378).
([16]) Tahdzibul kamal (16/16) dan “Siyaru a’laamin nubala’” (8/390).
([17]) Dalam kitab beliau “Al Jaami’ li akhlaaqir raawi wa aadaabis saami’” (1/215).
([18]) Mengenai ilmu yang bermanfaat dan syarat-syarat untuk mendapatkannya, silahkan baca tulisan kami yang berjudul “Ilmu Yang Bermanfaat”.

Kenapa Manhaj Salaf ? Mengapa Harus Bermanhaj Salaf ?

Hasil gambar untuk petunjuk jalan yang lurus Penulis: Al Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al Atsari, Lc

Orang-orang yang hidup pada zaman Nabi adalah generasi terbaik dari umat ini. Mereka telah mendapat pujian langsung dari Allah dan Rasul-Nya sebagai sebaik-baik manusia. Mereka adalah orang-orang yang paling paham agama dan paling baik amalannya sehingga kepada merekalah kita harus merujuk.

Manhaj Salaf, bila ditinjau dari sisi kalimat merupakan gabungan dari dua kata; manhaj dan salaf.

Manhaj dalam bahasa Arab sama dengan minhaj, yang bermakna: Sebuah jalan yang terang lagi mudah. (Tafsir Ibnu Katsir 2/63, Al Mu’jamul Wasith 2/957).

Sedangkan salaf, menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Siapa saja yang telah mendahuluimu dari nenek moyang dan karib kerabat, yang mereka itu di atasmu dalam hal usia dan keutamaan. (Lisanul Arab, karya Ibnu Mandhur 7/234).

 Dan dalam terminologi syariat bermakna: Para imam terdahulu yang hidup pada tiga abad pertama Islam, dari para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in (murid-murid shahabat) dan tabi’ut tabi’in (murid-murid tabi’in). (Lihat Manhajul Imam As Syafi’i fii Itsbatil ‘Aqidah, karya Asy Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil, 1/55).
Berdasarkan definisi di atas, maka manhaj salaf adalah: Suatu istilah untuk sebuah jalan yang terang lagi mudah, yang telah ditempuh oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in dan tabi’ut tabi’in di dalam memahami dienul Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

 Seorang yang mengikuti manhaj salaf ini disebut dengan Salafy atau As Salafy, jamaknya Salafiyyun atau As Salafiyyun. Al Imam Adz Dzahabi berkata: “As Salafi adalah sebutan bagi siapa saja yang berada di atas manhaj salaf.” (Siyar A’lamin Nubala 6/21).

Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf (Salafiyyun) biasa disebut dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah dikarenakan berpegang teguh dengan Al Quran dan As Sunnah dan bersatu di atasnya. Disebut pula dengan Ahlul Hadits wal Atsar dikarenakan berpegang teguh dengan hadits dan atsar di saat orang-orang banyak mengedepankan akal. Disebut juga Al Firqatun Najiyyah, yaitu golongan yang Allah selamatkan dari neraka (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash), disebut juga Ath Thaifah Al Manshurah, kelompok yang senantiasa ditolong dan dimenangkan oleh Allah (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Tsauban). (Untuk lebih rincinya lihat kitab Ahlul Hadits Humuth Thaifatul Manshurah An Najiyyah, karya Asy Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali).

Manhaj salaf dan Salafiyyun tidaklah dibatasi (terkungkung) oleh organisasi tertentu, daerah tertentu, pemimpin tertentu, partai tertentu, dan sebagainya. Bahkan manhaj salaf mengajarkan kepada kita bahwa ikatan persaudaraan itu dibangun di atas Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan pemahaman Salafush Shalih.

Siapa pun yang berpegang teguh dengannya maka ia saudara kita, walaupun berada di belahan bumi yang lain. Suatu ikatan suci yang dihubungkan oleh ikatan manhaj salaf, manhaj yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.

Manhaj salaf merupakan manhaj yang harus diikuti dan dipegang erat-erat oleh setiap muslim di dalam memahami agamanya. Mengapa?

Karena demikianlah yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Quran dan demikian pula yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam Sunnahnya.

Sedang kan Allah telah berwasiat kepada kita: “Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisa’: 59)

Adapun ayat-ayat Al Quran yang menjelaskan agar kita benar-benar mengikuti manhaj salaf adalah sebagai berikut:

1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : “Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.” (Al Fatihah: 6-7)      

     
    Al Imam Ibnul Qayyim berkata: “Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan berusaha untuk mengikutinya…, maka setiap orang yang lebih mengetahui kebenaran serta lebih konsisten dalam mengikutinya, tentu ia lebih berhak untuk berada di atas jalan yang lurus. Dan tidak diragukan lagi bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mereka adalah orang-orang yang lebih berhak untuk menyandang sifat (gelar) ini daripada orang-orang Rafidhah.” (Madaarijus Saalikin, 1/72).
    Penjelasan Al Imam Ibnul Qayyim tentang ayat di atas menunjukkan bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang mereka itu adalah Salafush Shalih, merupakan orang-orang yang lebih berhak menyandang gelar “orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah” dan “orang-orang yang berada di atas jalan yang lurus”, dikarenakan betapa dalamnya pengetahuan mereka tentang kebenaran dan betapa konsistennya mereka dalam mengikutinya. Gelar ini menunjukkan bahwa manhaj yang mereka tempuh dalam memahami dienul Islam ini adalah manhaj yang benar dan di atas jalan yang lurus, sehingga orang-orang yang berusaha mengikuti manhaj dan jejak mereka, berarti telah menempuh manhaj yang benar, dan berada di atas jalan yang lurus pula.    

2. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran, dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam,, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An Nisa’: 115)     

    Al Imam Ibnu Abi Jamrah Al Andalusi berkata: “Para ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah (di atas): ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan orang-orang mukmin disini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan generasi pertama dari umat ini, karena mereka merupakan orang-orang yang menyambut syariat ini dengan jiwa yang bersih. Mereka telah menanyakan segala apa yang tidak dipahami (darinya) dengan sebaik-baik pertanyaan, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun telah menjawabnya dengan jawaban terbaik. Beliau terangkan dengan keterangan yang sempurna. Dan mereka pun mendengarkan (jawaban dan keterangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut), memahaminya, mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, menghafalkannya, dan menyampaikannya dengan penuh kejujuran. Mereka benar-benar mempunyai keutamaan yang agung atas kita. Yang mana melalui merekalah hubungan kita bisa tersambungkan dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, juga dengan Allah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.’” (Al Marqat fii Nahjissalaf Sabilun Najah hal. 36-37)

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Dan sungguh keduanya (menentang Rasul dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin –red) adalah saling terkait, maka siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran, pasti ia telah mengikuti selain jalan orang-orang mukmin. Dan siapa saja yang mengikuti selain jalan orang-orang mukmin maka ia telah menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran.” (Majmu’ Fatawa, 7/38).

    Setelah kita mengetahui bahwa orang-orang mukmin dalam ayat ini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (As Salaf), dan juga keterkaitan yang erat antara menentang Rasul dengan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, maka dapatlah disimpulkan bahwa mau tidak mau kita harus mengikuti “manhaj salaf”, jalannya para sahabat.

    Sebab bila kita menempuh selain jalan mereka di dalam memahami dienul Islam ini, berarti kita telah menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan akibatnya sungguh mengerikan… akan dibiarkan leluasa bergelimang dalam kesesatan… dan kesudahannya masuk ke dalam neraka Jahannam, seburuk-buruk tempat kembali… na’udzu billahi min dzaalik.         

3. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung.” (At-Taubah: 100).      

    Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mengkhususkan ridha dan jaminan jannah (surga)-Nya untuk para sahabat Muhajirin dan Anshar (As Salaf) semata, akan tetapi orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pun mendapatkan ridha Allah dan jaminan surga seperti mereka.

    Al Hafidh Ibnu Katsir berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengkhabarkan tentang keridhaan-Nya kepada orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, dan ia juga mengkhabarkan tentang ketulusan ridha mereka kepada Allah, serta apa yang telah Ia sediakan untuk mereka dari jannah-jannah (surga-surga) yang penuh dengan kenikmatan, dan kenikmatan yang abadi.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/367). Ini menunjukkan bahwa mengikuti manhaj salaf akan mengantarkan kepada ridha Allah dan jannah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
    فَإِنْ ءَامَنُوا بِمِثْلِ مَا ءَامَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ Artinya : “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu).” [QS Al Baqoroh: 137]     

Adapun hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sebagai berikut:

1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham…” (Shahih, HR Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Darimi, Ibnu Majah dan lainnya dari sahabat Al ‘Irbadh bin Sariyah. Lihat Irwa’ul Ghalil, hadits no. 2455).      

     Dalam hadits ini dengan tegas dinyatakan bahwa kita akan menyaksikan perselisihan yang begitu banyak di dalam memahami dienul Islam, dan jalan satu-satunya yang mengantarkan kepada keselamatan ialah dengan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin (Salafush Shalih). Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan agar kita senantiasa berpegang teguh dengannya. Al Imam Asy Syathibi berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam -sebagaimana yang engkau saksikan- telah mengiringkan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin dengan sunnah beliau, dan bahwasanya di antara konsekuensi mengikuti sunnah beliau adalah mengikuti sunnah mereka…, yang demikian itu dikarenakan apa yang mereka sunnahkan benar-benar mengikuti sunnah nabi mereka  atau mengikuti apa yang mereka pahami dari sunnah beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, baik secara global maupun secara rinci, yang tidak diketahui oleh selain mereka.”(Al I’tisham, 1/118).    

2. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Terus menerus ada sekelompok kecil dari umatku yang senantiasa tampil di atas kebenaran. Tidak akan memudharatkan mereka orang-orang yang menghinakan mereka, sampai datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan seperti itu.” (Shahih, HR Al Bukhari dan Muslim, lafadz hadits ini adalah lafadz Muslim dari sahabat Tsauban, hadits no. 1920).    

    Al Imam Ahmad bin Hanbal berkata (tentang tafsir hadits di atas): “Kalau bukan Ahlul Hadits, maka aku tidak tahu siapa mereka?!” (Syaraf Ashhabil Hadits, karya Al Khatib Al Baghdadi, hal. 36).

    Al Imam Ibnul Mubarak, Al Imam Al Bukhari, Al Imam Ahmad bin Sinan Al Muhaddits, semuanya berkata tentang tafsir hadits ini: “Mereka adalah Ahlul Hadits.” (Syaraf Ashhabil Hadits, hal. 26, 37). Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata: “Hadits ini merupakan tanda dari tanda-tanda kenabian (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam), di dalamnya beliau telah menyebutkan tentang keutamaan sekelompok kecil yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan setiap masa dari jaman ini tidak akan lengang dari mereka. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendoakan mereka dan doa itupun terkabul. Maka Allah ‘Azza Wa Jalla menjadikan pada tiap masa dan jaman, sekelompok dari umat ini yang memperjuangkan kebenaran, tampil di atasnya dan menerangkannya kepada umat manusia dengan sebenar-benarnya keterangan. Sekelompok kecil ini secara yakin adalah Ahlul Hadits insya Allah, sebagaimana yang telah disaksikan oleh sejumlah ulama yang tangguh, baik terdahulu ataupun di masa kini.” (Tarikh Ahlil Hadits, hal 131).

    Ahlul Hadits adalah nama lain dari orang-orang yang mengikuti manhaj salaf. Atas dasar itulah, siapa saja yang ingin menjadi bagian dari “sekelompok kecil” yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits di atas, maka ia harus mengikuti manhaj salaf.    

3. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “…. Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan. Beliau ditanya: ‘Siapa dia wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: golongan yang aku dan para sahabatku mengikuti.” (Hasan, riwayat At Tirmidzi dalam Sunannya, Kitabul Iman, Bab Iftiraqu Hadzihil Ummah, dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash).    

    Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata: “Hadits ini sebagai nash (dalil–red) dalam perselisihan, karena ia dengan tegas menjelaskan tentang tiga perkara: 

         – Pertama, bahwa umat Islam sepeninggal beliau akan berselisih dan menjadi golongan-golongan yang berbeda pemahaman dan pendapat di dalam memahami agama. Semuanya masuk ke dalam neraka, dikarenakan mereka masih terus berselisih dalam masalah-masalah agama setelah datangnya penjelasan dari Rabb Semesta Alam  

        . – Kedua, kecuali satu golongan yang Allah selamatkan, dikarenakan mereka berpegang teguh dengan Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mengamalkan keduanya tanpa adanya takwil dan penyimpangan.  

         – Ketiga, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menentukan golongan yang selamat dari sekian banyak golongan itu. Ia hanya satu dan mempunyai sifat yang khusus, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri (dalam hadits tersebut) yang tidak lagi membutuhkan takwil dan tafsir. (Tarikh Ahlil Hadits hal 78-79). 

         Tentunya, golongan yang ditentukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu adalah yang mengikuti manhaj salaf, karena mereka di dalam memahami dienul Islam ini menempuh suatu jalan yang Rasulullah dan para sahabatnya berada di atasnya.    

  
Berdasarkan beberapa ayat dan hadits di atas, dapatlah diambil suatu kesimpulan, bahwa manhaj salaf merupakan satu-satunya manhaj yang harus diikuti di dalam memahami dienul Islam ini, karena: 

     1. Manhaj salaf adalah manhaj yang benar dan berada di atas jalan yang lurus. 

     2. Mengikuti selain manhaj salaf berarti menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang berakibat akan diberi keleluasaan untuk bergelimang di dalam kesesatan dan tempat kembalinya adalah Jahannam.  

     3. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf dengan sebaik-baiknya, pasti mendapat ridha dari Allah dan tempat kembalinya adalah surga yang penuh dengan kenikmatan, kekal abadi di dalamnya. 

     4. Manhaj salaf adalah manhaj yang harus dipegang erat-erat, tatkala bermunculan pemahaman-pemahaman dan pendapat-pendapat di dalam memahami dienul Islam, sebagaimana yang diwasiatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. 

     5. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah sekelompok dari umat ini yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan senantiasa mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  

     6. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah golongan yang selamat dikarenakan mereka berada di atas jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabatnya.  

 Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika:  

 1. Al Imam Abdurrahman bin ‘Amr Al Auza’i berkata:  

     “Wajib bagimu untuk mengikuti jejak salaf walaupun banyak orang menolakmu, dan hati-hatilah dari pemahaman/pendapat tokoh-tokoh itu walaupun mereka mengemasnya untukmu dengan kata-kata (yang indah).” (Asy Syari’ah, karya Al Imam Al Ajurri, hal. 63).  

 2. Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit berkata: 

     “Wajib bagimu untuk mengikuti atsar dan jalan yang ditempuh oleh salaf, dan hati-hatilah dari segala yang diada-adakan dalam agama, karena ia adalah bid’ah.” (Shaunul Manthiq, karya As Suyuthi, hal. 322, saya nukil dari kitab Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 54).   

3. Al Imam Abul Mudhaffar As Sam’ani berkata: 

     “Syi’ar Ahlus Sunnah adalah mengikuti manhaj salafush shalih dan meninggalkan segala yang diada-adakan (dalam agama).” (Al Intishaar li Ahlil Hadits, karya Muhammad bin Umar Bazmul hal. 88).   

4. Al Imam Qawaamus Sunnah Al Ashbahani berkata: 

     “Barangsiapa menyelisihi sahabat dan tabi’in (salaf) maka ia sesat, walaupun banyak ilmunya.” (Al Hujjah fii Bayaanil Mahajjah, 2/437-438, saya nukil dari kitab Al Intishaar li Ahlil Hadits, hal. 88)   

5. Al-Imam As Syathibi berkata: 

     “Segala apa yang menyelisihi manhaj salaf, maka ia adalah kesesatan.” (Al Muwafaqaat, 3/284), saya nukil melalui Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 57).    

6. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:  

     “Tidak tercela bagi siapa saja yang menampakkan manhaj salaf, berintisab dan bersandar kepadanya, bahkan yang demikian itu disepakati wajib diterima, karena manhaj salaf pasti benar.” (Majmu’ Fatawa, 4/149). Beliau juga berkata: “Bahkan syi’ar Ahlul Bid’ah adalah meninggalkan manhaj salaf.” (Majmu’ Fatawa, 4/155).   

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk mengikuti manhaj salaf di dalam memahami dienul Islam ini, mengamalkannya dan berteguh diri di atasnya, sehingga bertemu dengan-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Amin yaa Rabbal ‘Alamin.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

http://www.darussalaf.org/index.php?name=News&file=article&sid=261

Dalil Manhaj Salaf Dalam Surat Al Fatihah

Hasil gambar untuk petunjuk jalan yang lurusManhaj Salaf adalah metode beragama Islam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi terbaik sesudah beliau berada di atasnya, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan dalam sebuah hadits, dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خير الناس قرني ، ثم الذين يلونهم ، ثم الذين يلونهم

“Sebaik-baik manusia adalah kurunku (Sahabat), kemudian orang-orang yang setelahnya (Tabi’in), lalu orang-orang yang sesudahnya (Tabi’ut Tabi’in)” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Manhaj Salaf ini telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetap tetap ada sampai datangnya ketentuan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ عَلَى الْحَقِّ  منصورة

“Senantiasa ada sekelompok dari ummatku yang mereka tetap di atas kebenaran lagi ditolong” (Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).

Manhaj Salaf adalah jalan hidup yang lurus dan terang dalam beragama menurut pemahaman dan pengamalan para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Tabi’in, dan Tabi’utTabi’in sebagai hasil dari didikan guru besar yang paling mulia mereka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lah yang langsung mendidik para Sahabatnya bagaimana memahami dan mengamalkan Islam dengan benar, kemudian para Sahabat radhiyallahu ‘anhum mendidik murid-murid mereka, yaitu Tabi’in (pengikut Sahabat) dengan baik, sedangkan Tabi’in melanjutkan perjuangan dakwah dengan mendidik para Tabi’ut Tabi’in (Pengikut Tabi’in) dengan baik pula. Mereka lah tiga generasi terbaik setelah para Rasul dan Nabi ‘alaihimush shalatu was salam.
Dalil Manhaj Salaf dari surat Al- Faatihah

Suatu perkara yang tidak diperselisihkan oleh kaum muslimin semenjak dulu sampai sekarang bahwa satu-satunya jalan lurus (Ash-Shiraath Al-Mustaqiim) yang diridhai oleh Allah adalah jalan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hal itu dikarenakan Allah menjamin bagi setiap hamba-Nya yang berpegang teguh dengan Al-Qur’an akan mendapatkan  anugerah istiqamah, lurus meniti jalan menuju Rabb-nya. inilah jaminan tersebut,

Allah Ta’ala berfirman:

قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ

“Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya lagi menunjukkan kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus” (Al-Ahqaaf: 30).

Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Al-Qur’an menunjukkan kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus, maka tentunya ini mengandung maksud bahwa Allah Ta’ala menjamin setiap orang yang yang berpegang teguh dengan Al-Qur’an akan mendapatkan  anugerah istiqamah, lurus meniti jalan menuju kepada Rabb nya. Sebagaimana Allah juga menjamin bagi hamba-Nya yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan istiqomah, lurus di atas kebenaran,

Allah Ta’ala berfirman tentang Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok utusan Allah yang menunjukkan kepada manusia jalan yang lurus,

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (Asy-Syuuraa: 52).

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus, maka barangsiapa yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya Allah Ta’ala menjaminnya akan mampu istiqomah, lurus di atas kebenaran.
Lantas, apakah yang diperselisihkan oleh sebagian kaum muslimin?

Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, bahwa kaum muslimin semenjak dulu sampai sekarang tidak pernah berselisih bahwa jalan yang lurus (Ash-Shiraath Al-Mustaqiim) yang diridhoi oleh Allah adalah jalan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Namun perkara yang membuat banyak di antara mereka berselisih adalah dengan metode apa mereka memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dan mengamalkan keduanya.

Inilah yang menyebabkan banyak dari kelompok dan aliran-aliran dalam barisan kaum muslimin melenceng dari jalan lurus (Ash-Shiraath Al-Mustaqiim). Jadi, tidak cukup seorang muslim mengatakan, “Mari kembali kepada Al-Qur’an dan As- Sunnah!”, walaupun ini kalimat yang benar, namun karena pemahaman kita terhadap keduanya bisa benar dan bisa pula salah, demikian juga dalam mengamalkan keduanya, bisa jadi amal kita keliru, maka adanya standarisasi pemahaman dan pengamalan agama Islam yang benar -yang direkomendasikan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah sebuah keniscayaan.

Adapun standar pemahaman dan pengamalan agama Islam yang benar itu adalah pemahaman dan pengamalan Salafush Shaleh -tiga generasi terbaik dari seluruh umat para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam, dan generasi Salafush Shaleh yang paling mulia adalah para Sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka langsung mendapatkan tarbiyyah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Jalan siapakah yang disebut sebagai jalan yang lurus (Ash-Shiraath Al-Mustaqiim)?

Sobat, coba renungkanlah sejenak ayat-ayat dalam surat Al-Faatihah! Bukankah Allah tidak mencukupkan dalam surat Al-Faatihah hanya sampai ayat:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus”.

Barangkali kaum muslimin-ketika membaca surat Al-Fatihah dalam shalatnya, tidak ada satupun dari mereka yang berani dengan sengaja berhenti hanya sampai ayat di atas. Ketahuilah, bahwa makna ayat di atas tidaklah bisa dipisahkan dengan makna ayat berikutnya, karena kedua ayat tersebut hakikatnya merupakan satu kesatuan yang memiliki hubungan erat dalam menunjukkan “Jalan yang lurus dan Orang-orang yang menitinya.”

Sebagaimana jika ada orang yang menyangka bahwa ia telah meniti jalan yang lurus, padahal jalan tersebut tidak pernah dilalui oleh para pendahulunya yang lurus, maka itu adalah sebuah kesalahan. Demikian juga, jika ada orang yang menyangka bahwa dirinya adalah orang yang lurus, padahal jalan yang dilaluinya sebenarnya telah menyimpang dari jalan yang lurus, itupun hakikatnya juga sebuah kesalahan.

Ketahuilah wahai saudaraku, ayat di atas menunjukkan kepada jalan Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena dalam ayat tersebut isinya adalah permohonan seorang hamba kepada Rabbnya agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus, sedangkan di dalam surat Al-Ahqaaf: 30, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah jalan yang lurus, dan dalam surat Asy-Syuuraa: 52, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa As-Sunnah  adalah jalan yang lurus, sebagaimana telah dijelaskan di dalam artikel bagian pertama.

Namun wahai saudaraku, Allah tidak membiarkan kita kebingungan mencari tahu tentang jalan siapakah yang disebut sebagai jalan yang lurus tersebut, sehingga Allah tidak berhenti berfirman hanya sampai ayat,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus”.

akan tetapi melanjutkan firman-Nya,

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.

Hal ini menunjukkan bahwa jalan yang lurus itu adalah jalan orang-orang yang mendapatkan anugerah nikmat yang besar dari Allah Ta’ala, berupa:

    Nikmat amal shalih, sebagaimana terkandung dalam firman-Nya:

    غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ

    “bukan (jalan) mereka yang dimurkai.”
    maksudnya orang-orang yang tidak mengamalkan ilmunya. Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah berkata,

    الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ الذين عرفوا الحق وتركوه كاليهود ونحوهم

    “الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran, namun meninggalkannya (tidak mengamalkannya), seperti yahudi dan semisal mereka.”  (Tafsir As-Sa’di, hal. 28).
    Nikmat Ilmu yang bermanfa’at, sebagaimana terkandung dalam firman-Nya:

    وَلَا الضَّالِّينَ

    “dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.
    maksudnya adalah orang-orang yang tidak memiliki ilmu yang bermanfa’at. Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah berkata,

    الضَّالِّينَ الذين تركوا الحق على جهل وضلال, كالنصارى ونحوهم

    “الضَّالِّينَ adalah orang-orang yang meninggalkan kebenaran  dalam keadaan tidak berilmu dan sesat, seperti nashara dan semisal mereka”. (Tafsir As-Sa’di, hal. 28).

Dengan demikian firman-Nya,

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

“Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka”, hakikatnya menunjukkan kepada jalan orang-orang yang mendapatkan anugerah nikmat dari Rabb mereka, berupa “Ilmu yang bermanfa’at dan amal sholeh”.

Berkata Ibnul Qoyyim rahimhullah,

وتأمل سرا بديعا في ذكر السبب والجزاء للطوائف الثلاثة بأوجز لفظ وأخصره ، فإن الإنعام عليهم يتضمن إنعامه بالهداية التي هي العلم النافع والعمل الصالح

“Perhatikanlah rahasia yang indah dalam penyebutan sebab dan balasan bagi tiga golongan (yang terkandung dalam surat Al-Faatihah, pent) dengan lafadz yang paling ringkas dan singkat, maka sesungguhnya pemberian nikmat kepada mereka mengandung pemberian nikmat hidayah oleh-Nya, yang hidayah itu sendiri adalah ilmu yang bermanfa’at dan amal sholeh”. (Madarijus Salikin 1/36).

Beliau juga berkata,

فكل من كان أعرف للحق ، وأتبع له كان أولى بالصراط المستقيم

“Maka setiap orang yang lebih mengetahui kebenaran dan lebih mengikutinya, ia lah yang lebih berhak (disifati mendapatkan) jalan yang lurus” (Madarijus Salikin 1/94).
Bagaimana Ahli Tafsir menafsirkan “ Jalan lurus (Ash-Shiraath Al-Mustaqiim) dan orang-orang yang menitinya”?

Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya, menjelaskan makna dari firman Allah Ta’ala,

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

“(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka”

وهم أهل الهداية والاستقامة والطاعة لله ورسله ، وامتثال أوامره وترك نواهيه

“Mereka adalah orang yang mendapatkan hidayah (baca: berilmu), keistiqomahan dan ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya, melaksanakan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya (baca: beramal).”

Dengan demikian, profil orang-orang yang berada di atas Ash-Shiraath Al-Mustaqiim adalah tipe orang-orang yang menggabungkan ilmu yang bermanfa’at  dan amal salih dalam diri mereka. Oleh karena itu, pantas jika di antara salafus salih ada yang menafsirkan “ Jalan lurus (Ash-Shiraath Al-Mustaqiim) dan orang-orang yang menitinya” dengan “Abu Bakar, Umar, dan para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”, karena merekalah orang-orang yang  paling besar -setelah para Rasul dan Nabi ‘alaihimush shalatu was salam– dalam mendapatkan anugerah Allah berupa ilmu yang bermanfa’at dan amal salih, sehingga mereka menjadi generasi terbaik setelah para Rasul dan Nabi ‘alaihimush shalatu was salam.

Al-Baghawi rahimahullah dalam menafsirkan firman Allah Ta’ala :

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

menukilkan perkataan salafus salih,

وقال عبد الرحمن بن زيد: “هم النبي صلى الله عليه وسلم ومن معه”

“Abdur Rahman bin Zaid rahimahullah berkata, ‘Mereka adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang bersamanya (para Sahabatnya).’”

وقال أبو العالية: “هم آل الرسول صلى الله عليه وسلم وأبو بكر وعمر رضي الله عنهما وأهل بيته”.

“Abul ‘Aliyah rahimahullah berkata, ‘Mereka adalah para pengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar radhiyallahu ‘anhuma dan Ahli Bait beliau.’”

وقال شَهرُ بن حَوْشَب: “هم أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم وأهل بيته”.

“Syahr bin Hausyab rahimahullah, mereka adalah para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ahli Bait beliau’” (Tafsir Al-Baghawi 1/7).

Ibnul Qoyyim menyebutkan dalam kitabnya, Zaid bin Aslam rahimahullah berkata,

الذين أنعم الله عليهم : هم رسول الله  صلى الله عليه وسلم وأبو بكر وعمر

“Orang-orang yang Allah anugerahkan nikmat kepada mereka adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar serta Umar” (Madarijus Salikin 1/95).
Kesimpulan

Jika Anda ingin meniti jalan yang lurus dalam hidup ini hingga selamat sampai tujuan, berjumpa dengan Allah di Surga, maka ikutilah jalan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam memahami dan mengamalkan agama Islam ini. Sebaliknya, barangsiapa yang menyimpang dari jalan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam memahami dan mengamalkan agama Islam ini, berarti ia telah menyimpang dari jalan orang-orang mukmin yang terbaik setelah para Rasul dan Nabi ‘alaihimush shalatu was salam, dan silahkan simak ancaman Allah  bagi orang-orang yang menyimpang tersebut, berikut ini,

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali” (An-Nisaa : 115).

Yang dimaksud dengan “orang-orang mukmin” di dalam ayat ini adalah para shahabat Rasulullah dan generasi pertama dari umat ini.
Renungan

Tidakkah kita sadari bahwa sesungguhnya setiap hari kita diwajibkan membaca surat Al Fatihah yang merupakan dalil tentang Manhaj Salaf dalam shalat-shalat kita? Wa billahit Taufiq.

***
sumber : www.muslim.or.id

MENITI ILMU DIATAS MANHAJ SALAF


Hasil gambar untuk menuntut ilmu dalam islam
Manhaj Salaf,[1] merupakan satu-satunya metode pemahaman dan pengamalan agama Islam yang dijamin kebenarannya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Oleh karena itu, jaminan mendapatkan keridhaan Allah Azza wa Jalla hanya diberikan kepada para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka dengan ihsan (kebaikan). Dinyatakan dalam firman Allah Azza wa Jalla :

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar (para sahabat Radhiyallahu anhum) dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [at-Taubah/9:100].

Dalam ayat ini, Allah Azza wa Jalla menyebutkan jaminan keridhaan-Nya bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk para sahabat Radhiyallahu anhum, dengan syarat mereka mengikutinya dengan ihsan (kebaikan). Artinya, yaitu mengikuti petunjuk mereka secara keseluruhan dalam memahami dan mengamalkan agama ini, baik dalam aqidah (keyakinan), ibadah, tingkah laku, bergaul, bersikap, berdakwah, dan semua sisi lainnya dalam beragama. Ringkasnya, mengikuti petunjuk para sahabat Radhiyallahu anhum dalam mengilmui (memahami) dan mengamalkan agama ini secara menyeluruh.

Tentang penafsiran ayat di atas, Imam Ibnu Katsir berkata: “Orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan, ialah orang-orang yang mengikuti jejak (petunjuk) mereka yang baik, dan sifat-sifat mereka yang terpuji, serta selalu mendoakan kebaikan bagi mereka secara diam-diam maupun terang-terangan”.[2]

MANHAJ SALAF: MANHAJ ILMU DAN AMAL
Inilah salah satu keistimewaan terbesar yang terdapat pada manhaj salaf. Manhaj ini dibangun di atas ilmu (pemahaman) agama yang benar, dan pengamalan yang baik. Seseorang yang benar-benar mengikuti manhaj ini, ia akan terbimbing dalam pemahaman agamanya, sehingga akan terhindar dari segala bentuk syubhat,[3] sekaligus terbimbing dalam pengamalan ilmu tersebut sehingga terhindar dari segala bentuk syahwat (hawa nafsu, Red.).[4]

Dengan keistimewaan ini pula, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi pensifatan terhadap petunjuk yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam firman-Nya:

مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ

Kawanmu (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak sesat (dalam ilmu) dan tidak pula menyimpang (dalam amal). [an-Najm/53:2].

Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mensucikan petunjuk yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari dua kerusakan. Yaitu: adh-dhalâl (kesesatan),[5] dan al-ghawâyah/al-ghayy (penyimpangan).[6] Ini berarti, tedapat dua bimbingan sekaligus. Yaitu al-huda (bimbingan dalam ilmu dan pemahaman) dan ar-rusyd (bimbingan dalam amal). Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah seorang yang paling sempurna dalam memahami dan mengamalkan agama ini.[7]

Demikian pula dua bimbingan ini ada pada petunjuk yang dibawa al-khulafa` ar-râsyidîn (para sahabat utama yang menggantikan kepemimpinan Rasulullah setelah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Disebutkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnah (petunjuk)ku dan petunjuk al-khulafa’ ar-râsyidîn al-mahdiyyin …”.[8]

Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut para sahabat utama yang menggantikan kepemimpinan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai al-khulafa’ ar-râsyidîn al-mahdiyyin. Artinya para khalifah yang memiliki ar-rusyd, yaitu bimbingan dalam amal (lawan dari al-ghawâyah); dan memiliki al-huda, yaitu bimbingan dalam ilmu dan pemahaman (lawan dari adh-dhalâl). Ini menunjukkan, seseorang yang benar-benar mengikuti petunjuk al-khulafa’ ar-râsyidîn dan termasuk pula para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara keseluruhan, maka orang itu akan terbimbing dengan baik dalam memahami dan mengamalkan agama Islam ini.

Kita mengetahui, para ulama Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah dari kalangan at-Tabi’in yang menimba ilmu secara langsung dari para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mereka tidak hanya mempelajari secara teori belaka, akan tetapi juga mempelajari cara mengamalkan dan mempraktekkan ilmu tersebut.

Abu ‘Abdirrahmân ‘Abdullah bin Habib bin Rubayyi’ah as-Sulami al-Kuufi[9] berkata: “Kami mempelajari Al-Qur`ân dari suatu kaum (para sahabat Radhiyallahu anhum) yang menyampaikan kepada kami, bahwa dulunya, ketika mereka mempelajari sepuluh ayat (Al-Qur`ân dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), mereka tidak akan berpindah ke sepuluh ayat berikutnya sampai mereka (benar-benar) memahami kandungan ayat-ayat tersebut. Maka kamipun mempelajari Al-Qur`ân sekaligus cara mengamalkannya. Dan setelah kami nanti, akan datang suatu kaum yang mereka mempelajari Al-Qur`an seperti meminum air, yaitu Al-Qur`ân itu tidak melampui tenggorokan mereka (maksudnya, tidak masuk ke dalam hati mereka)”[10].

PARA ULAMA SALAF, MEREKA MERUPAKAN IMAM DALAM ILMU DAN AMAL
Jika mencermati dengan seksama biografi para imam besar Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, kita akan mengetahui, mereka tidak hanya disifati sebagai orang-orang yang mendalam ilmu agamanya saja, akan tetapi, mereka juga orang-orang yang menjadi teladan dalam ibadah dan amal shalih.

Misalnya Rabî’ bin Khutsaim al-Kûfi (wafat tahun 65 H),[11] ia merupakan salah seorang imam besar dari kalangan Tabi’in ‘senior’ yang terpercaya dalam meriwayatkan hadits. Dia termasuk murid sahabat yang mulia ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu. Lantaran ketekunannya dalam ibadah dan ketakwaan, sehingga guru beliau sendiri -Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu – memujinya dengan mengatakan: “Seandainya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatmu, maka sungguh beliau akan mencintaimu. Setiap kali melihatmu, aku mengingat orang-orang yang selalu menundukkan diri (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala).”[12]

Muhammad bin Sirin al-Bashri (wafat tahun 110 H),[13] ia seorang imam besar Tabi’in yang sangat terpercaya dan teliti dalam meriwayatkan hadits. Di dalam biografinya diterangkan, beliau ialah seorang yang sangat wara` (hati-hati dalam masalah halal dan haram) dan seorang yang tekun beribadah. Abu ‘Awânah al-Yasykuri mengomentari tentang beliau: “Aku melihat Muhammad bin Sirin di pasar; tidak seorangpun melihatnya, kecuali orang itu akan mengingat Allah”.[14]

Tsabit bin Aslam al-Bunâni al-Bashri (wafat tahun 123 H atau 127 H),[15] ia juga seorang imam besar dari kalangan Tabi’in yang terpercaya dalam meriwayatkan hadits. Dia termasuk murid senior sahabat yang mulia, Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu. Tsabit bin Aslam sangat tekun beribadah, bahkan ia disifati sebagai orang yang paling tekun beribadah pada masanya, sehingga Anas bin Malik Radhiyallahu anhu memujinya dengan mengatakan: “Sesungguhnya, Tsabit termasuk pembuka pintu-pintu kebaikan”.[16]

Dalam memujinya, Anas bin Malik Radhiyallahu anhu mengisyaratkan kepada hadits yang diriwayatkannya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya di antara manusia ada pembuka pintu-pintu kebaikan dan penutup pintu-pintu keburukan”.[17]

‘Abdullah bin al-Mubarak al-Marwazi (wafat tahun 181 H),[18] ia seorang imam besar ternama dari kalangan Atba’ut Tabi’in (murid para Tabi’in) yang sangat terpercaya dan teliti dalam meriwayatkan hadits. Pensifatan terhadapnya, ialah sebagai orang yang pada diri beliau terkumpul semua sifat-sifat kebaikan; sampai-sampai Imam Sufyan bin ‘Uyainah memujinya dengan mengatakan: “Aku memperhatikan (membandingkan) sifat-sifat para sahabat Radhiyallahu anhum dengan sifat-sifat ‘Abdullah bin al-Mubarak, maka aku tidak melihat para sahabat Radhiyallahu anhum melebihi keutamaannya, kecuali karena para sahabat Radhiyallahu anhum menyertai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berjihad bersamanya”.[19]

Begitu pula dengan Ibnu Hajar dalam Taqrîbut-Tahdzîb (hlm. 271), ia berkata: “Dia (‘Abdullah bin al-Mubarak, Red.) adalah seorang yang terpercaya lagi sangat teliti (dalam meriwayatkan hadits), memiliki ilmu dan pemahaman (yang mendalam), dermawan lagi (sering) berjihad (di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala). Pada dirinya terkumpul (semua) sifat-sifat baik”.

Sehubungan dengan pembahasan di atas, ada satu nukilan menarik yang disebutkan oleh al-Khathib al-Baghdaadi dalam kitab beliau, Tarikh Baghdad (9/58), dan adz-Dzahabi dalam Siyaru A’lâmin Nubalâ` (13/203), dalam biografi imam besar penghafal hadits yang ternama, yaitu Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats as-Sijistani (wafat tahun 275 H), pemilik kitab Sunan Abi Dawud.

Dalam nukilan itu disebutkan mata rantai guru-guru beliau dalam mempelajari ilmu hadits sehingga diketahui sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka ialah Imam Ahmad bin Hambal, beliau guru utama Imam Abu Dawud; kemudian Waqi’ bin al-Jarrah ar-Ruaasi, beliau termasuk guru utama Imam Ahmad; lalu Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri, beliau merupakan guru utama Imam Waqi’ bin al-Jarrah; selanjutnya Manshur bin al-Mu’tamir, beliau termasuk guru utama Sufyan ats-Tsauri, selanjutnya Ibrahim bin Yazid an-Nakhâ`i, ialah termasuk guru utama Manshur bin al-Mu’tamir; kemudian ‘Alqamah bin Qais an-Nakhaa`i, beliau merupakan guru utama Ibrahim an-Nakhâ`i dan termasuk murid “senior’ sahabat yang mulia ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu. Selanjutnya ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, beliaulah yang langsung menimba ilmu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Mereka ini, semua merupakan imam-imam besar Ahlul-Hadits yang sangat terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sehingga hadits-hadits mereka dicantumkan dalam kitab-kitab hadits ternama, seperti Shahîh al-Bukhâri, Shahîh Muslim, dan lain-lain.

Yang menarik dari nukilan itu, bahwasanya semua imam-imam besar tersebut disifati sebagai “orang yang diserupakan dengan gurunya dalam petunjuk dan tingkah lakunya”; mulai dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, beliau diserupakan dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam petunjuk dan tingkah lakunya, kemudian ‘Alqamah diserupakan dengan ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu dalam petunjuk dan tingkah lakunya, seterusnya sampai kepada Imam Abu Dawud, beliau diserupakan dengan Imam Ahmad bin Hambal dalam petunjuk dan tingkah lakunya.

Dalam nukilan tersebut, kita mendapati para ulama Ahlus Sunnah dalam menimba ilmu agama tidak hanya mengutamakan pengambilan ilmu secara teori belaka, akan tetapi juga mengambil dan meneladani petunjuk dan tingkah laku guru-guru mereka secara maksimal, sehingga Imam Abu Dawud dapat mengambil dan meneladani petunjuk dan tingkah laku Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui teladan yang diambil dari guru-guru beliau, padahal rentang masa antara beliau dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat jauh.

NASIHAT UNTUK PARA PENGIKUT MANHAJ SALAF
Dari keterangan di atas sangat jelaslah, di antara keistimewaan terbesar yang ada pada manhaj salaf, yaitu perhatian dan kesemangatan mereka dalam mempelajari dan mengamalkan petunjuk Al-Qur`ân dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Oleh karena itu, maka kita yang menisbatkan diri kepada manhaj ini, seharusnya berusaha untuk mengikuti petunjuk mereka, agar kita termasuk ke dalam golongan “orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka dengan kebaikan” dan mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala . Karena kalau bukan kita – terlebih lagi para penuntut ilmu di antara kita – yang semangat mempelajari dan mengamalkan petunjuk Al- Qur`ân dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , lalu siapa lagi?!

Marilah kita perhatikan dengan seksama nasihat Imam al-Khatîb al-Baghdadi[20] tentang adab-adab utama yang seharusnya dimiliki oleh para penuntut ilmu. Beliau berkata, semestinya para penuntut ilmu hadits (berusaha) membedakan (antara) dirinya dengan kebiasaan orang-orang awam dalam semua urusan (tingkah laku dan sikap)nya, dengan (berusaha) mengamalkan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam semaksimal mungkin, dan membiasakan dirinya mengamalkan sunnah-sunnahnya, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu. [al-Ahzâb/33:21].

Kemudian al-Khatîb al-Baghdadi membawakan beberapa atsar (riwayat) dari ulama Salaf, di antaranya ucapan Imam al-Hasan al-Bashri: “Dahulu, jika seseorang menuntut ilmu agama, maka tidak lama kemudian terlihat (pengaruh ilmu tersebut) pada sifat khusyu’ (tunduk)nya (kepada Allah), tingkah lakunya, ucapannya, pandangannya dan (perbuatan) tangannya”.

Juga atsar dari Imam Ahmad bin Hambal, ketika ada seorang penuntut ilmu yang bermalam di rumah beliau, maka Imam Ahmad menyiapkan air (untuk berwudhu), kemudian paginya Imam Ahmad datang kepada tamunya tersebut dan mendapati air yang beliau siapkan tidak berkurang sama sekali, maka beliau berkata: “Subhanallah (Maha Suci Allah)! Seorang penuntut ilmu tidak melakukan wirid (dzikir dan shalat) pada malam hari?!”

Demikianlah, petunjuk para ulama Salaf dalam menjalankan agama ini; yang kita mengaku menisbatkan diri kepada manhaj mereka, akan tetapi sudahkah kita menerapkan petunjuk mereka dalam diri kita?

Semoga tulisan ini menjadi koreksi dan penambah motivasi bagi kita untuk lebih semangat mencari ilmu yang bermanfaat, dan berusaha melatih diri mengamalkan ilmu tersebut, serta tidak lupa banyak berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , agar kita diberi kemudahan dalam menempuh manhaj yang lurus ini.

Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , semoga Dia senantiasa melimpahkan taufik dan petunjuk-Nya kepada kita, sehingga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mengikuti petunjuk para ulama Salaf dengan kebaikan, serta menjadikan diri kita tetap istiqamah di atas manhaj yang lurus ini sampai akhir hayat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XII/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Metode beragama yang telah ditempuh oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para ulama Ahlus-Sunnah yang mengukuti petunjuk mereka.
[2]. Tafsir Ibnu Katsir, 4/432.
[3]. Artinya kerancuan dan kesalahpahaman dalam memahami agama Islam, yang disebabkan ketidakmampuan membedakan antara yang benar dan yang batil (salah). Lihat keterangan Ibnul-Qayyim dalam kitabnya Igâtsatul-Lahafân, hlm. 40 –Mawâridul-Amân.
[4]. Artinya memperturutkan keinginan nafsu yang buruk dan mendahulukannya daripada petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ibid.
[5]. Kerusahan dalam ilmu dan pemahaman.
[6]. Kerusakan dalam amal.
[7]. Lihat keterangan Ibnul-Qayyim dalam kitab Miftahu Dâris-Sa’âdah, 1/40.
[8]. HR Abu Dawud (no. 4607), at-Tirmidzi (no. 2676), Ibnu Majah (no. 42 dan 43) dan al-Hakim (no. 329) dan lain-lain, dari sahabat yang mulia al ‘Irbaadh bin Saariyah Radhiyallahu anhu. Riwayat ini dinyatakan shahîh oleh at- Tirmidzi, al-Hakim, dan disepakati oleh adz-Dzahabi, begitu pula Syaikh al-Albâni dalam ash-Shahîhah (no. 937).
[9]. Beliau ialah seorang Tabi’in senior yang terpercaya dan teliti dalam meriwayatkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga riwayat hadits beliau dicantumkan oleh para imam ahli hadits dalam kitab-kitab hadits mereka, seperti halnya al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasâ`i, dan lain-lain. Beliau wafat pada sekitar tahun 73 atau 74 H. Biogarafi beliau terdapat di dalam kitab Tahdzîbul-Kamala (14/408), Siyaru A’lâmin Nubalâ` (4/267), dan Taqrîbut-Tahdzîb (hlm. 250).
[10]. Atsar ini dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam Siyaru A’lâmin Nubalâ` (4/269). Dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama ‘Atha` bin as-Saaib al-Kuufi. Ibnu Hajar di dalam kitab Taqrîbut-Tahdzîb (hlm. 250) berkata tentang perawi ini: “Dia adalah seorang yang sangat jujur, akan tetapi (hafalannya) tercampur”.
Meskipun demikian, perawi yang meriwayatkan darinya dalam atsar ini ialah Hammâd bin Zaid al-Bashri yang meriwayatkan darinya sebelum hafalannya tercampur, sebagaimana ucapan Imam Ali bin al-Madîni dan al-‘Uqaili (lihat kitab Tahdzîbul-Kamâl, 7/185). Riwayat ini juga dikuatkan dengan riwayat lain dari ucapan sahabat yang mulia ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam Tafsir-nya (1/60) dengan sanad yang semua perawinya terpercaya, akan tetapi Sulaiman bin Mihraan al-A’masy meriwayatkannya dengan ‘an’anah, sedangkan ia seorang mudallis.
[11]. Biografi beliau dalam Tahdzîbul-Kamâl (9/70) dan Siyaru A’lâmin Nubalâ` (4/258).
[12]. Siyaru A’lâmin Nubalâ` (4/258), juga dinukil oleh al-Mîzi dalam Tahdzîbul-Kamâl (9/72) dan Ibnu Hajar dalam kitab Taqrîbut-Tahdzîb (hal. 157).
[13]. Biografi beliau dalam Tahdzibul-Kamal (25/344) dan Siyaru A’lâmin Nubalâ` (4/606).
[14]. Lihat Siyaru A’lâmin Nubalâ` (4/610). Sifat beliau ini menunjukkan bahwa beliau ialah wali (kekasih) Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wali (kekasih) Allah ialah seseorang yang jika (manusia) memandangnya maka mereka akan ingat kepada Allah”. HR ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul-Kabîr (no. 12325), Dhiya’uddin al-Maqdisi dalam al-Ahâditsul-Mukhtârah (2/212), dan lain-lain. Hadits ini dinyatakan kuat oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shahîhah (no. 1733) karena diriwayatkan dari jalur lain yang saling menguatkan.
[15]. Biografi beliau terdapat dalam Tahdzibul-Kamal (4/342) dan Siyaru A’lâmin Nubalâ` (5/220).
[16]. Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (no 35679). Semua perawinya terpercaya kecuali Zaid bin Dirham al-Bashri; tidak ada seorang imampun yang menyatakannya sebagai orang yang terpercaya kecuali Ibnu Hibban yang menyebutkannya dalam kitab ats-Tsiqât (4/247).
[17]. HR Ibnu Majah (no. 237) dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab as-Sunnah (no. 251). Dinyatakan hasan (baik) oleh Syaikh al-Albâni dalam ash-Shahîhah (no. 1332) karena diriwayatkan dari berbagai jalur lain yang saling menguatkan.
[18]. Biografi beliau dalam Tahdzibul-Kamal (16/5) dan Siyaru A’lâmin Nubalâ` (8/378).
[19]. Lihat Tahdzibul-Kamal (16/16) dan Siyaru A’lâmin Nubalâ` (8/390).
[20]. Lihat kitab beliau, al-Jâmi’ li Akhlâqir-Râwi wa Âdâbis-Sâmi’ (1/215
 Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA

Sumber: https://almanhaj.or.id/3449-meniti-ilmu-di-atas-manhaj-salaf.html

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More